Dalam komunikasi organisasi masyarakat sipil (OMS), menentukan audiens yang tepat menjadi langkah penting agar pesan dapat disampaikan secara lebih strategis dan sesuai tujuan. Hal tersebut menjadi fokus sesi “Mengidentifikasi dan Memetakan Audiens” dalam pelatihan “Membangun Strategi Komunikasi yang Efektif untuk Organisasi Masyarakat Sipil” yang diselenggarakan oleh Yayasan Penabulu melalui Program Lingkar Madani dengan dukungan The David and Lucile Packard Foundation.
Sesi kedua yang dilaksanakan pada Selasa, 18 Agustus 2026 mengangkat topik “Mengidentifikasi dan Memetakan Audiens”. Sesi peningkatan kapasitas ini dipandu oleh Kartika Pamungkas, Praktisi Komunikasi Strategis, sebagai narasumber. Peserta diajak memahami bahwa tidak semua orang membutuhkan informasi yang sama. Audiens perlu ditentukan berdasarkan tujuan komunikasi, bukan semata-mata berdasarkan jumlah orang atau kategori demografis.
Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada perbedaan antara stakeholder, audiens, dan beneficiary/komunitas. Narasumber menjelaskan bahwa ketiganya dapat saling beririsan, tetapi tidak selalu sama. Peserta juga diajak menentukan primary audience, yaitu pihak yang perlu dipengaruhi secara langsung, serta secondary audience, yaitu pihak yang dapat memengaruhi, mendukung, atau memperkuat perubahan yang diinginkan.
Selanjutnya, peserta diajak melihat audiens lebih jauh melalui pendekatan beyond demographics. Tidak cukup hanya mengetahui usia, gender, lokasi, atau pekerjaan audiens, tetapi juga perlu memahami interest, motivation, concern, aspiration, dan barrier. Pemahaman tersebut membantu organisasi menemukan reason to care dari setiap audiens sehingga pesan yang disampaikan dapat lebih relevan.
Untuk menerapkan materi, peserta dibagi menjadi tiga kelompok breakout room untuk mengerjakan studi kasus. Setiap kelompok memilih salah satu kasus, yaitu advokasi kebijakan, kampanye publik, atau mobilisasi komunitas. Peserta kemudian diminta menentukan WHO atau audiens utama dan sekunder, WHY atau alasan audiens peduli, serta memetakan POWER/INTEREST untuk melihat seberapa besar pengaruh mereka. Kelompok juga menentukan CHANGE, yaitu tindakan atau perubahan yang diharapkan dari audiens, serta NEED, yaitu kebutuhan komunikasi yang diperlukan. Setelah menyelesaikan diskusi di breakout room, masing-masing kelompok kembali ke ruang utama untuk mempresentasikan hasil studi kasus.