Yayasan Penabulu melalui Program Lingkar Madani, dengan dukungan The David and Lucile Packard Foundation, menyelenggarakan pelatihan "Pengelolaan SDM yang Efektif: Membangun Kolaborasi & Inklusivitas di Tempat Kerja" sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas organisasi masyarakat sipil (OMS) dalam membangun sistem pengelolaan sumber daya manusia yang adaptif dan berkelanjutan. Sesi pertama pelatihan yang dilaksanakan pada Rabu, 1 Juli 2026 mengangkat topik "Membangun Kolaborasi dan Relasi yang Sehat" dengan menghadirkan Danardono Siradjudin, Organizational Development Consultant, sebagai narasumber dan Dea Naferta sebagai fasilitator.
Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bahwa kolaborasi yang sehat merupakan hasil dari sinergi antara kemampuan individu dalam bekerja sama dan kemampuan organisasi membangun budaya kerja yang adaptif terhadap berbagai perubahan. Danar menekankan bahwa organisasi tidak pernah berada dalam ruang yang statis. Perkembangan teknologi informasi, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), perubahan karakteristik generasi, serta dinamika sosial, ekonomi, dan politik menuntut organisasi untuk terus belajar dan menyesuaikan diri agar tetap relevan.
Pembahasan kemudian berlanjut pada faktor-faktor yang menentukan ketahanan (resiliensi) organisasi. Menurut narasumber, organisasi yang mampu bertahan dan berkembang umumnya didukung oleh tata kelola yang baik, kaderisasi yang sistematis, kemampuan memobilisasi sumber daya, dan legitimasi yang dibangun melalui kerja-kerja yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Seluruh aspek tersebut saling berkaitan dalam membentuk organisasi yang mampu menghadapi perubahan sekaligus menjaga keberlanjutannya.
Narasumber juga mengajak peserta merefleksikan makna inklusi dalam kehidupan organisasi. Inklusi dipahami sebagai komitmen untuk memastikan setiap individu memperoleh kesempatan yang setara untuk berpartisipasi, berkembang, dan berkontribusi tanpa adanya diskriminasi. Budaya inklusif tidak cukup diwujudkan melalui slogan atau jargon, melainkan harus menjadi bagian dari kebijakan, cara berkomunikasi, proses pengambilan keputusan, hingga interaksi sehari-hari di lingkungan kerja.
Selanjutnya, fasilitator memantik peserta untuk berdiskusi dengan memberikan pertanyaan, “Menurut teman-teman, apa yang paling perlu diprioritaskan agar kolaborasi dalam organisasi berhasil: orang, sistem, atau budaya?”
Masing-masing peserta memiliki pandangan yang berbeda terkait pertanyaan di atas berdasarkan pengalaman mereka berorganisasi. Untuk melihat bagaimana diskusi tersebut berkembang serta memahami materi secara lebih lengkap, yuk tonton rekaman kelasnya dan temukan berbagai insight yang dapat diterapkan dalam organisasimu.